Kapan antibodi terbentuk setelah divaksinasi Covid-19? – Setelah melakukan vaksin, tubuh akan bekerja dengan melatih sistem kekebalan untuk mengenali dan memerangi patogen, baik virus maupun bakteri. Untuk melakukannya, molekul tertentu dari patogen harus dimasukkan ke dalam tubuh guna memicu respons imun. Molekul tersebut disebut dengan antigen, yang ada di semua virus dan bakteri. Dengan menyuntikkan antigen ke dalam tubuh, sistem kekebalan akan belajar mengenalinya.
Kapan antibodi terbentuk setelah divaksinasi Covid-19?
Sebagai pelindung tubuh, sistem kekebalan akan menyerang, memproduksi antibodi, serta mengingatnya jika suatu saat bakteri atau virus tersebut muncul kembali. Antibodi bekerja secara spesifik dengan cara menempel pada antigen, yaitu benda asing atau zat yang masuk ke dalam tubuh dan dianggap berbahaya oleh sistem kekebalan tubuh. Jika di kemudian hari muncul, sistem kekebalan otomatis akan mengenali antigen dan menyerang secara agresif sebelum patogen menyebar yang menyebabkan penyakit.Â
Pembentukan antibodi usai vaksinasi Covid-19 dosis kedua membutuhkan waktu agar bisa secara optimal memberikan perlindungan pada manusia terhadap virus SARS CoV 2.
Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang optimal, tes antibodi disarankan dilakukan pada 28 hari hingga 35 hari setelah mendapatkan dosis kedua vaksin Covid-19. Perlu disadari, jenis tes ini hanya dilakukan untuk membantu mengetahui kadar antibodi yang ada di dalam tubuh, bukan menilai apakah vaksin yang diberikan bekerja dengan baik atau tidak.Â
Jika imunitas komunitas terbentuk, orang-orang yang termasuk ke dalam golongan tidak memenuhi syarat untuk melakukan vaksinasi tetap hidup dengan aman. Untuk membentuk sebuah imunitas komunitas, dalam sebuah kelompok cukup 70 persen saja yang melakukan vaksinasi. Jika terlalu banyak orang yang tidak melakukan vaksinasi, maka imunitas komunitas akan hancur dan berisiko terkena penyakit.
Ada dua faktor yang menyebabkan kegagalan tersebut yaitu faktor vaksin dan faktor sistem imun. Pada faktor vaksin ada beberapa yang menjadi penyebab diantaranya antigen yang dipakai, faktor teknis penyuntikan, interval atau dosis tertentu. Sedangkan ada genetik, umur, penyakit komorbid imunodefisiensi, penggunaan obat imunosupresan, status nutrisi dan sebagainya pada faktor sistem imun.
Nyatanya, ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi respons tubuh terhadap vaksin yang diberikan. Dengan kata lain, efek vaksin pada satu orang dengan yang lainnya bisa saja berbeda. Antibodi yang terdeteksi melalui tes juga bisa saja muncul karena riwayat infeksi virus sebelumnya. Maka dari itu, cobalah untuk berbicara terlebih dahulu pada dokter sebelum memutuskan untuk melakukan tes.Â
Â
[/et_pb_text][/et_pb_column_inner][/et_pb_row_inner][/et_pb_column][et_pb_column type=”1_4″][et_pb_sidebar area=”et_pb_widget_area_1″ _builder_version=”4.4.9″ body_font=”|700|||||||” body_text_color=”#000000″ background_color=”#e8e8e8″ custom_padding=”10px|10px|10px|10px|true|true” border_width_all=”1.2px” border_color_all=”rgba(0,0,0,0)” border_color_all__hover_enabled=”on|hover” border_color_all__hover=”#eb3155″ body_text_color__hover_enabled=”on|hover” body_text_color__hover=”#eb3155″ global_module=”987466610″][/et_pb_sidebar][/et_pb_column][/et_pb_section]
Add comment