Sering kali kita mendengar komentar dari beberapa orang, dokter sangat mudah ‘mengcovidkan pasien’, “hanya sakit gigi saja bisa sakit covid?”, “ngga ada batuk pilek cuma pegel aja jadi covid”.
Sampai hari ini virus corona masih menyimpan begitu banyak misteri. Salah satunya, sejumlah pasien yang mengidap penyakit tersebut bisa mengalami gejala Covid-19 yang berbeda-beda.
Perlu diketahui pada awalnya gejala Covid-19 hanya ada tiga, yaitu:
- Demam
- Batuk
- Sesak napas
Namun, baru-baru ini kita ketahui adanya gejala Covid-19 terbaru yaitu anosmia (hilangnya indra penciuman). Menurut ahli bedah telinga dan tenggorokan (THT), Profesor Nirmal Kumar di antara ribuan pasien Covid-19 yang dirawat karena anosmia di Inggris dilaporkan beberapa mengalami parosmia, yaitu gangguan penciuman yang mengalami kehilangan intensitas aroma atau tidak bisa mendeteksi seluruh aroma di sekitar pasien. Selain parosmia, masih ada beberapa gejala yang lain, yaitu:
- Delirium
Delirium merupakan gejala mental yang membuat penderitanya mengalami kebingungan berat dengan kesadaran yang berkurang akibat terganggunya sistem saraf pusat. Biasanya gejala Covid-19 ini umumnya muncul pada kelompok lanjut usia (lansia).
Gejala yang dirasakan pasien saat delirium salah satunya adalah sulit fokus dan mudah teralihkan, suka melamun dan lamban bereaksi, daya ingat menurun, kesulitan berbicara, berhalusinasi, mudah tersinggung dan mood berubah mendadak, sering gelisah, kebiasaan tidur berubah.
- Kelelahan
Berdasarkan studi yang telah diterbitkan di JAMA (Journal of the American Medical Association), kelelahan merupakan salah satu gejala Covid-19 yang dapat bertahan lama setelah seseorang terinfeksi virus Corona.
Studi ini menemukan, sebanyak 53 persen pasien Covid-19 mengalami kelelahan selama sekitar 60 hari setelah pertama kali mengalami gejala.
- Sakit mata
Sebuah studi dari Anglia Ruskin University (ARU), Inggris, menemukan sebanyak 18 persen pasien Corona mengalami fotofobia (sensitivitas cahaya) sebagai salah satu gejalanya.
Dari 83 responden, 81 persen melaporkan masalah mata dalam dua minggu setelah gejala lainnya muncul. Dari jumlah tersebut, 80 persen melaporkan masalah mata mereka berlangsung kurang dari dua minggu.
- Masalah pencernaan
Menurut studi, masalah pencernaan yang diakibatkan oleh infeksi virus Corona bisa berupa diare dan muntah-muntah. Umumnya, pasien Covid-19 yang mengalami masalah pencernaan juga disertai dengan gejala lainnya.
Diketahui, hanya 4 persen orang yang didiagnosis positif Covid-19 karena muntah dan diare sebagai gejala tunggal tanpa gejala penyerta.
- Nyeri otot
Penelitian yang diterbitkan di The Journal Annals of Clinical and Translational Neurology menemukan bahwa 44,8 persen relawan yang berpartisipasi mengalami nyeri otot akibat Covid-19.
Rasa nyeri ini mungkin disebabkan karena peradangan yang terjadi di dalam tubuh akibat infeksi virusnya. Selain itu, para pasien Covid-19 yang sudah sembuh juga bisa mengalami nyeri otot.
- Ruam kulit
Dokter kulit dari DNI Skin Centre, Dr dr I Gusti Nyoman Darmaputra, SpKK(K), FINSDV, FAADV, mengatakan bahwa infeksi virus Corona bisa menyebabkan ruam kulit. Namun, ruam kulitnya cenderung bersifat ringan dan tidak berisiko fatal.
“Kemungkinan muncul ruam pada pasien Covid-19 itu bervariasi risikonya sekitar 0,2-20 persen,” jelas dr Darma.
Rata-rata gejala akan muncul 5–6 hari setelah seseorang pertama kali terinfeksi virus ini, tetapi bisa juga 14 hari setelah terinfeksi. Semakin banyak gejala yang ditunjukkan seseorang, semakin besar kemungkinan mereka dites positif terkena virus. Hal ini mungkin terjadi, meskipun penelitian menunjukkan bahwa sekitar 60 persen orang yang terinfeksi tidak melaporkan gejala apa pun dalam seminggu sebelum tes.

Add comment